Catut Nama Pejabat

 

ilustrasi
ilustrasi

MODUS penipuan dengan mencatut nama pejabat masih saja terjadi di masyarakat. Bila masyarakat tak hati-hati, bisa terkecoh dan menjadi korban penipuan. Sebaliknya, bila masyarakat melakukan cek dan kroscek, bakal terhindar dari modus penipuan ini.

Seperti dialami Kepala TK ABA Kusumajati, Siti Nur Fajaryati, baru-baru ini menerima pesan SMS dari seseorang yang mengaku operator PAUDNI dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman. Pengirim pesan meminta ia menghubungi Sekda Sleman, dengan menyebut nomor telepon, namun ternyata itu hanya bohong belaka. Setelah dicek ternyata nomor yang diberikan pelaku bukanlah milik Sekda Sleman.

Untung Siti Nur Fajaryati teliti dan tak mudah percaya, melainkan melakukan cek ke rekan-rekannya di grup WA. Inilah salah satu manfaat dari grup WA yang bisa digunakan untuk mencari dan mendapatkan informasi secara benar. Pelaku mungkin tak mengira bila calon korbannya tak mudah dibohongi, bahkan melakukan cek ke nomor HP.

Awalnya, pelaku tak langsung meminta uang, melainkan hanya meminta agar calon korbannya menghubungi nomor yang disebutnya sebagai milik Sekda Sleman. Hampir bisa dipastikan nomor yang diberikan pelaku adalah milik anggota komplotannya yang berperan sebagai Sekda. Nah dari situlah nanti para penjahat ini akan memperdaya korbannya dengan berbagai dalih yang ujung-ujungnya meminta uang.

Bagi warga yang kritis, seperti Siti Nur Fajaryati, aksi penipu tidak mempan karena yang bersangkutan langsung melakukan cek ke nomor yang diberikan pelaku. Sebaliknya, bagi orang yang panik dan tidak kritis, mungkin akan percaya begitu saja omongan pelaku.

Namun seiring dengan canggihnya teknologi komunikasi, modus penipuan dengan mencatut nama pejabat seharusnya sudah tidak mempan. Mengapa ? Karena masyarakat dengan mudah akan melakukan kroscek terhadap informasi yang disampaikan pelaku. Apalagi saat ini, tak terlalu sulit untuk menghubungi pejabat. Bahkan, warga bisa langsung menelepon atau kirim pesan melalui WhatsApp ke pejabat yang bersangkutan.

Kalau masih ada warga yang menjadi korban penipuan bermodus catut nama pejabat, kemungkinan yang bersangkutan dalam keadaan panik sehingga tak bisa berpikir jernih. Pelaku akan berusaha mempengaruhi calon korbannya agar percaya kepadanya. Untuk itu masyarakat harus melawan dengan melalukan cek dan kroscek. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Perampok Bertopeng Pukuli Pasutri

  PURWOREJO (MERAPI) - Sutarjo (64) dan Eti Budiarti (59), pasangan suami istri (pasutri) lansia warga Dusun Krajan Desa Bajangrejo

Close