Apus-apusan Lowongan Kerja

ilustrasi
ilustrasi

PERSAINGAN di dunia kerja makin ketat. Peminat membludak, sementara lapangan kerja yang diperebutkan makin sempit. Karenanya, begitu dibuka lowongan kerja, entah di bidang apa saja, selalu dibanjiri pelamar. Lowongan kerja bisa diumumkan lewat media apa saja, baik media konvensional maupun media sosial (medsos).

Dari sekian banyak lowongan, tak semuanya benar, ada yang apus-apusan. Mereka menjanjikan pekerjaan yang mendatangkan uang banyak, namun mensyaratkan bagi pelamar menyetor uang dalam jumlah tertentu dengan alasan untuk biaya pelatihan dan sebagainya. Inilah perangkap penipu untuk menjerat korbannya.

Seperti kasus baru-baru ini di Sleman, sepuluh mahasiswa dari berbagai daerah tertipu perusahaan yang mengaku penyalur jasa tenaga kerja, Q-Net. Melalui lowongan iklan di media sosial, perusahaan tersebut menjanjikan pekerjaan di bandara dan Hongkong. Namun setiap peserta diwajibkan membayar Rp 8 juta untuk keperluan pelatihan dan sebagainya. Anehnya, ada saja masyarakat yang terkecoh dan mau menyerahkan uang sebesar itu. Apa yang terjadi kemudian ? Setelah uang disetor, pekerjaan yang dijanjikan tak juga datang. Mereka hanya ditampung di dua rumah kontrakan kawasan Kalitirto.

Lantaran curiga dengan aktivitas di dua rumah tersebut, masyarakat kemudian lapor polisi dan setelah digeledah, ternyata tempat tersebut digunakan untuk korban penipuan tenaga kerja. Ya, mereka ditelantarkan oleh penipu yang mengaku penyalur tenaga kerja.

Melihat modusnya, penipuan dengan gaya seperti ini sebenarnya tergolong biasa. Masyarakat, apalagi mahasiswa, seharusnya curiga ketika perusahaan jasa penyalur tenaga kerja meminta uang. Dari awal sebenarnya sudah kelihatan bahwa perusahaan tersebut tidak bonafide, karena layak dicurigai.

Kalau belum-belum sudah mbayar, masyarakat patut curiga jangan-jangan itu hanya ulah penipu. Penipuan dengan modus lowongan pekerjaan sepertinya menjamur di semua daerah. Kita hanya bisa mengingatkan masyarakat untuk waspada, apalagi persyaratannya harus membayar. Kalau ada perusahaan seperti itu, lebih baik tinggalkan. Bila benar perusahaan membutuhkan karyawan, tentu sudah mempersiapkan segala sesuatunya sehingga tidak membebani calon pelamar.

Karena penipuan dilakukan melalui medsos, polisi tak gampang melacak pelaku, sehingga butuh kerja keras. Tindakan pelaku masuk kategori penipuan biasa, namun pelaku pandai memanfaatkan kondisi piskologi korbannya. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Rusuh, Massa Minta PT RUM Tutup

SUKOHARJO (MERAPI) - Kerusuhan terjadi di pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Jumat (23/2).

Close