Bakar Motor Mertua

 

ilustrasi cermin
ilustrasi cermin

SIAPA mau motor Honda Vario gratis ? Sepertinya tak ada orang yang menolak menerimanya. Motor adalah barang berharga yang memang dibutuhkan masyarakat. Apa yang Anda rasakan bila ada motor sengaja dibakar tanpa sebab ? Ya orang akan kompak mengatakan eman-eman. Daripada dibakar bukankah lebih baik diberikan kepada orang lain ?

Masyarakat sempat terkejut ada peristiwa pembakaran motor di Dusun Ngerame Tamantirto Kasihan Bantul baru-baru ini. Motor ditemukan sudah tinggal rangka. Berkat kesigakan polisi, kasus tersebut berhasil diungkap, ternyata motor milik Supar warga Patuk Gunungkidul yang dibakar oleh menantunya sendiri. Diduga, pembakaran itu dipicu masalah keluarga. Kasus tersebut akhirnya bisa diselesaikan secara musyawarah kekeluargaan.

Agaknya, polisi juga tidak meneruskan kasus ini. Bagaimanapun, kasus ini menjadi preseden buruk. Bahwa konflik rumah tangga memang bisa diselesaikan secara musyawarah kekeluargaan. Namun, tentu harus ada batasannya. Kalau sudah masuk wilayah pidana, urusan jadi lain, bahkan bisa berbuntut ke pengadilan.

Dalam kasus pembakaran Honda Vario di Dusun Ngerame, sang pemilik mengaku sudah mengikhlaskan motornya dibakar menantu. Benarkah ada orang ikhlas motornya dibakar ? Sepertinya, sang pemilik motor, Supar, tak mau urusan berkepanjangan sehingga menganggapnya sudah selesai.

Padahal, secara hukum, persoalan pembakara motor, tak cukup dengan tindakan mengikhlaskan. Pasal 406 KUHP jelas mengatur soal tindakan merusak atau membinasakan barang yang sebagian atau seluruhnya milik orang lain dan dilakukan secara melawan hukum, diancam pidana dua tahun delapan bulan kurungan. Ini dikecualikan bila antara pelaku dan korban tidak terikat hukum kekeluargaan. Bila terikat hukum kekeluargaan, maka pengusutan baru bisa dilakukan bila ada pengaduan dari korban (lihat Pasal 367 KUHP).

Mungkin polisi merujuk pada pasal tersebut sehingga tidak meneruskan kasusnya setelah pemilik Honda Vario tidak mempermasalahkannya. Padahal, yang diterangkan dalam pasal tersebut tertuju pada suami-istri, bukan antara mertua dan menantu.

Dari sudut ketertiban masyarakat (sosial) tentu tidak elok membakar sepeda motor di tengah kesulitan ekonomi masyarakat. Mestinya tetap ada sanksi, meski bersifat sosial, terhadap tindakan yang tidak terpuji ini. Bisa dibayangkan, bagaimana seandainya semua orang beramai-ramai membakar motor milik keluarganya. Apakah ini juga dianggap bukan masalah ? (Hudono)

Read previous post:
Goda Mantan Pacar, Disemprot Air Keras

SEMARANG (MERAPI) - Gara-gara nekat menggoda mantan pacar yang sudah bersuami, Nur (20) u disemprot air keras oleh RW (26),

Close