Kejar Dunia Lupa Akhirat

Kejar Dunia Lupa Akhirat
Kejar Dunia Lupa Akhirat

MESKI Barna pergi dengan memendam rasa tidak senang pada keluarganya, namun sang ibunda tetap mendoakan anak pertamanya itu bisa sukses di tanah rantau. Sedang Barna sendiri sudah bertekad tak akan pulang jika belum meraih apa yang ia cita-citakan. Yakni, menjadi orang sukses dan kaya raya.
Perjuangan hidup yang dilalui Barna jauh dari keluarga memang penuh liku-liku. Ia mencoba peruntungan dari nol, sebagai pekerja kasar di lapangan. Tapi karena kerja keras dan didukung otaknya yang encer, maka pelan-pelan karirnya meningkat semakin ke atas.
Tak sampai sepuluh tahun, Barna pun sudah menjadi apa yang ia inginkan. Ia punya usaha sendiri dan memiliki karyawan hingga puluhan orang. Apapun sekarang ia punya, termasuk istri yang cantik beserta seorang anak mungil. Semua yang bersifat materi bisa ia miliki, kecuali waktu yang selalu tak ia dipunya untuk urusan keluarga dan urusan lain di luar pekerjaan.
Jangankan dengan orang tua dan adiknya yang berada jauh di tempat lain, dengan istri dan anaknya yang serumah pun Barna jarang berkomunikasi. Waktunya habis tersita oleh urusan pekerjaan.
“Papah lupa ya hari ini ulang tahun anak kita, bisa pulang awal tidak, Pah?” tanya istri Barna dari ujung telpon di suatu sore.
“Waduh, iya Mah, saya lupa. Tapi bagaimana ya, urusan di kantor tidak bisa ditinggalkan,” jawab Barna.
Jika sudah seperti ini, istri Barna hanya bisa menangis dalam hatinya. Ia sebenarnya sudah paham betul dengan sifat suaminya, tapi sulit rasanya untuk menerima perlakuakn seperti itu terus menerus. Upaya untuk mengingatkan sudah dilakukan, tapi sifat keras kepala Barna tidak pernah berubah.
Begitu pula dengan urusan ibadah, Barna nyaris tak pernah ingat akan Salat dan doa. Ia menganggap kesuksesannya selama ini berkat kerja kerasnya semata, jadi tak perlu memohon lewat doa-doa segala.
“Suatu ketika Nabi SAW dan para sahabat melihat ada seorang laki-laki yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja, seorang sahabat berkomentar: “Wahai Rasulullah, andai saja keuletannya itu dipergunakannya di jalan Allah.” Rasulullah saw menjawab: “Apabila dia keluar mencari rezeki karena anaknya yang masih kecil, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rezeki karena kedua orang tuanya yang sudah renta, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rezeki karena dirinya sendiri supaya terjaga harga dirinya, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rezeki karena riya’ dan kesombongan, maka dia di jalan setan.” (Al-Mundziri, At-Targhîb wa At-Tarhîb)(Bersambung)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Gandar atau pembungkus keris buatan Sudarno
SENTRA KERAJINAN KERIS – Aksesori Sampai Koleksi

GELIAT kehidupan masyarakat Imogiri tak terpisahkan dari kepariwisataan Yogyakarta. Di kawasan ini terdapat sentra pembuatan wayang kulit dan batik. Di

Close