Ironi Ibu Mencuri

Ironi Ibu MencuriBELUM lama ini kita memperingati Hari Ibu 22 Desember. Peringatan tersebut disambut dengan berbagai acara, mulai dari yang bersifat seremonial hingga yang dikemas ilmiah, seperti diskusi, seminar dan sebagainya. Namun, apakah peringatan ini bermanfaat dan membawa pengaruh siginifikan bagi perempuan, khususnya ibu ? Penilaian pun beragam dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

Di tengah peringatan itu, kita dikejutkan dengan peristiwa seorang ibu yang terpaksa mencuri di kios Pasar Colombo Candongcatur Sleman karena desakan ekonomi demi menghidupi anak balitanya. Sang ibu, Ny HK (22) warga Sardonoharjo Ngaglik Sleman, mungkin lagi apes karena aksinya kali ini ketahuan pemilik kios sehingga ia digiring ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Barang-barang yang dicuri nilainya tidak seberapa, tak sampai jutaan rupiah. Ny HK mencuri bahan pangan kebutuhan sehari-hari, seperti gula, minyak, beras dan sebagainya.

Ketika diinterogasi petugas, ia pun terus terang mengakui perbuatannya. Bukan kali ini saja ia mencuri di kios tersebut, tapi tak kurang sudah tiga kali. Modusnya dengan membeli gembok baru, kemudian mata kuncinya dipakai untuk membobol kios di Pasar Colombo. Dalam terminologi hukum pidana, tindakan Ny HK tetap saja dikategorikan sebagai pencurian, karena mengambil barang yang sebagian atau seluruhnya milik orang lain untuk dimiliki secara melawan hukum. Ia pun dijerat dengan Pasal 364 KUHP tentang pencurian yang bersifat ringan. Berdasar pasal tersebut, pelaku diancam pidana penjara paling lama tiga bulan.

Peristiwa tersebut tentu menjadi ironi di tengah hiruk pikuk peringatan Hari Ibu di seluruh wilayah Tanah Air. Secara hukum, tindakan Ny HK salah karena mencuri. Namun pertanyaannya, mengapa di zaman yang kian maju ini masih ada ibu yang harus mencuri demi menghidupi keluarganya ? Ny HK terpaksa mencuri karena suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan tak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Mengapa negara tidak hadir?

Negara melalui alat kelengkapannya, yakni pemerintah, termasuk pemerintah daerah seharusnya lebih peduli terhadap warganya. Mengapa masih ada warga yang untuk makan sehari-hari saja sulit dan terpaksa harus mencuri. Inilah sebenarnya makna penting dari peringatan Hari Ibu yang tidak sekadar seremonial belaka. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Tebu Hijau Andalan untuk Minuman
Tebu Hijau Andalan untuk Minuman

PERNAH melihat maupun membeli minuman sari tebu di pinggir-pinggir jalan? Bahan baku untuk membuat sari tebu ini paling cocok menggunakan

Close