Kecil-kecil Pemalak

Ilustrasi Kecil-kecil Pemalak
Ilustrasi Kecil-kecil Pemalak

KECIL-KECIL  pandai memalak. Itu terjadi pada  lima siswa SMP di Bantul yang menurut pengakuan mereka karena dipaksa oleh seseorang, yakni Ag (20) warga Kasihan Bantul. Namun aksinya ketahuan lantaran ada warga yang lapor ke polisi. Setelah mengendap-endap, polisi akhirnya berhasil mengamankan  pelaku pemalakan.

Terakhir, aksi pemalakan terjadi di sebuah kampus di kawasan Kraton Yogya. Dua pelaku, IF (13) dan SA (14) saat itu sedang memalak Rd (14) pelajar asal Kasihan. Polisi awalnya membiarkan aksi tersebut, hingga korban menyerahkan uang kepada pelaku. Setelah itu barulah  polisi bergerak dan mengamankan pelaku. Mereka pun terus terang disuruh Ag untuk memalak, bila menolak diancam keselamatannya. Kedua bocah tesebut juga mengatakan masih ada tiga temannya yang bernasib sama disuruh Ag memalak.

Menangani kasus ini polisi tak langsung memprosesnya secara hukum, melainkan menggunakan pendekatan persuasif, yakni dengan mendatangkan orangtua pelaku. Setelah itu, bocah-bocah nakal tersebut disuruh bersujud dan meminta maaf kepada orangtuanya. Saat ini mereka ditangani Bapas, yakni lembaga yang menangani anak-anak nakal.

Tentu berbeda perlakuannya terhadap Ag yang notabene sudah dewasa. Tindakan Ag yang memaksa anak-anak memalak masuk kategori tindak pidana. Mungkin Ag ingin merekrut anak buah sehingga bisa leluasa dalam melakukan aksinya. Dalam kasus ini, anak-anak memang tak bisa disalahkan sepenuhnya. Namun mereka tetap harus mendapat pembinaan sehingga tidak mengulangi perbuatannya.

Kalau mereka diancam Ag, mestinya melapor kepada orangtuanya untuk kemudian diteruskan ke polisi. Tokh pada akhirnya tindakan mereka diketahui orangtua. Polisi harus bertindak tegas terhadap Ag yang sedang mencari anak buah untuk diajari kriminal. Bayangkan, baru berusia 13 tahun sudah pandai memalak. Apa jadinya setelah dewasa nanti ? Untung aksi mereka bisa dihentikan setelah polisi bergerak cepat.

Meskipun tidak dihukum, anak-anak tersebut tetap harus diawasi. Sebab, boleh jadi, karena telah terbiasa, mereka mengulangi perbuatannya. Anak-anak mungkin tak lagi berpikir apakah tindakannya merugikan orang lain atau tidak, tapi yang penting ‘berkuasa’ dan bisa menekan teman-temannya. Apalagi, antara pelaku dan korban sudah saling mengenal. Jangan biarkan anak-anak terjerumus pada tindak kriminal. (Hudono)

Read previous post:
Terdakwa saat ke luar sidang setelah menjalani persidangan
DITUNTUT 8 TAHUN PENJARA – Residivis Mengaku Bukan Kurir Sabu

YOGYA (MERAPI) - Seorang residivis, Ism (38) warga Pujokusuman Yogyakarta mengaku tak menjual narkotika jenis sabu sebagaimana dakwaan dan tuntutan

Close