Modus Pesanan Palsu

Modus Pesanan Palsu
Modus Pesanan Palsu

MODUS penipuan makin beragam seiring berkembangnya teknologi komunikasi. Untuk memesan barang, makanan misalnya, tak perlu lagi pembeli harus bertemu dengan penjual. Mereka bisa bertransaksi via online, atau paling tidak melalui telepon. Itulah yang sering dikatakan banyak orang, dengan majunya teknologi komunikasi, dunia seolah dalam genggaman.

Sayangnya, kondisi tersebut tak diimbangi dengan  meningkatnya perlindungan hukum. Banyak kasus penipuan yang sulit diantisipasi. Hukum, dalam pengertian sempit berupa aturan yang bersifat tertulis, seakan tak mampu mengejar kemajuan teknologi. Apa boleh buat, hukum senantiasa tertinggal dibanding perkembangan peristiwanya.

Contoh sederhana, belakangan ini marak penipuan bermodus pesan makanan dan beli pulsa elektrik mengatasnamakan pejabat tertentu,  antara lain pejabat kepolisian. Begitu pesanan datang dan pulsa ditransfer, ternyata tak ada pejabat kepolisian yang pesan, padahal makanan telanjur diantar dan pulsa sudah ditransfer. Pengelola warung atau restoran akhirnya harus menanggung rugi. Sementara pihak kepolisian juga tak mau menerima kiriman makanan karena tidak merasa memesan.

Untuk makanan, mungkin masih ada alternatif dengan menjualnya kepada konsumen, namun terkait pulsa yang telanjur ditransfer tentu tak bisa ditarik kembali. Kasus terakhir terjadi di Karanganyar. Pelaku mencatut nama Kapolsek Tasikmadu AKP Sodikun. Sodikun kaget ketika tiba-tiba pegawai restoran mengirim 20 nasi kotak ayam beserta tagihannya, termasuk pulsa Rp 200 ribu. Karena tidak merasa pesan, tentu saja ditolak sehingga pemilik restoran rugi.

Kasus semacam itu juga pernah terjadi di Gunungkidul atau mungkin juga daerah lain di DIY. Saking percayanya dengan penelepon, pesanan langsung diantar dan ternyata pesanan palsu. Ini mestinya tak boleh terulang. Masyarakat, khususnya para pengelola bisnis, entah itu rumah makan atau jasa, hendaknya kroscek atas kebenaran pemesanan produknya.

Sudah banyak kasus penipuan dengan mencatut nama pejabat, tapi semua ujung-ujungnya meminta uang, entah dalam bentuk transfer pulsa maupun lainnya. Bisnis memang butuh kepercayaan. Tapi untuk membangun kepercayaan, dibutuhkan kecermatan atau ketelitian. Sebelum memenuhi permintaan konsumen, cek lebih dulu kebenarannya, bukan percaya begitu saja. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Uang Kiriman Habis, Mahasiswa Nyuri Laptop
HASIL KEJAHATAN UNTUK BAYAR KULIAH – Uang Kiriman Habis, Mahasiswa Nyuri Laptop

UMBULHARJO (MERAPI) - Dengan dalih kehabisan uang bulanan, seorang mahasiswa Cu (23) asal Sumba Timur, nekat mencuri laptop di kos-kosan

Close