Perbuatan Biadab

Perbuatan Biadab
Perbuatan Biadab

INILAH kejahatan paling sadis yang mengguncangkan masyarakat Yogyakarta. Seorang gadis penyandang tunga rungu, Utami Dwi Cahyo (27) warga Sedayu Bantul dibunuh dan diperkosa (masih didalami penyidik) di rumahnya, Sabtu lalu. Pelaku juga merampok harta korban. Kebetulan saat itu korban di rumah sendirian, karena orangtuanya harus berjualan buah-buahan di pasar Gamping.

Anehnya, pelaku sepertinya tahu persis situasi rumah. Bahkan, pelaku juga tahu tempat diletakkannya kunci pintu. Setelah dilakukan olah TKP, polisi akhirnya berhasil menangkap pelaku, Af (42) asal Papua. Pelaku pun langsung ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Dibanding kejahatan lainnya yang terjadi di Yogya, kasus ini mungkin menempati peringkat tertinggi dilihat dari kesadisannya. Pelaku melakukan tiga kejahatan berat sekaligus, yakni membunuh, memperkosa dan merampok. Tiga kejahatan itu belum tentu berlanjut, bisa saja terpisah. Dalam kasus tertentu, penjahat melakukan pembunuhan dengan maksud untuk mempermudah merampok.

Tapi dalam kasus ini boleh jadi tindakannya direncana. Bahkan, diduga perkosaan itu dilakukan setelah korban dibunuh. Terlepas ada tidaknya kelainan kejiwaan dalam diri pelaku, kejahatan yang ia lakukan tergolong sangat berat. Bahkan, hukuman mati sekalipun, takkan pernah bisa mengembalikan nyawa korbannya.

Sulit mencari pembanding tindakan sadis pelaku. Hewan sekalipun belum tentu mampu berbuat sebiadab itu. Karenanya,  dalam memproses kasus tersebut, aparat penegak hukum harus tegas dan tak membuka celah untuk memberi keringanan hukuman, meski dalam sidang nanti tetap ada faktor yang meringankan terdakwa.

Kabar pembunuhan dan perkosaan gadis difabel ini juga bergaung hingga level nasional, sehingga dipastikan menjadi sorotan luas masyarakat. Dengan demikian, proses hukumnya pun akan mendapat perhatian masyarakat. Karena itu, penanganannya harus profesional.

Kasus di atas juga bisa menjadi pembelajaran masyarakat. Meninggalkan rumah dalam kondisi terkunci ternyata belum tentu aman. Bahkan, penghuni rumah bisa terancam jiwanya lantaran pelaku kejahatan adalah orang yang telah mengenal korban dan situasi rumah.

Berprasangka baik kepada orang lain tentu boleh-boleh saja, namun bukan berarti mengurangi kewaspadaan. Meletakkan kunci juga tak boleh sembarangan, karena bukan tak mungkin ada orang yang melihatnya dan dimanfaatkan untuk berbuat jahat. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Jagung bisa membantu mencegah maupun melawan keluhan kesehatan
Rutin Konsumsi Jagung, Hipertensi Tak Berkutik

APA saja yang rutin kita konsumsi ikut menentukan kesehatan. Dengan kata lain, pola makan turut berpengaruh dalam menjaga kesehatan secara

Close