Dari Lebah Hasil Evakuasi, Komunitas di Bantul Produksi Madu Super

MERAPI-RIZA MARZUKI
Abdul Halim Muslih memanen madu budidaya komunitas Tim Buser Lebah Madu.

BANTUL (MERAPI) – Komunitas Tim Buser Lebah Madu Bantul berhasil memproduksi madu yang kini mulai dikirim ke berbagai daerah se-Indonesia. Uniknya lebah yang dibudidaya komunitas ini hasil dari berburu di hutan dan evakuasi dari rumah warga. Tidak kurang dari 300 boks atau glodok kandang lebah madu berisi koloni lebah yang sudah dikembangkan selama dua tahun terakhir. Uniknya, komunitas yang bermarkas di Dusun Gandon, Palbapang, Bantul itu membuat kandang layaknya tempat asal lebah saat dievakuasi.

Koordinator Lapangan Komunitas Tim Buser Lebah Madu, Johan mengatakan kegiatan itu berawal dari keberadaan koloni lebah di sumur tidak jauh dari markas komunitas. Koloni penghasil madu itu kemudian dievakuasi dan dimasukkan ke dalam boks kayu agar tidak bersinggungan dengan aktivitas manusia di sekitar sumur. Selang beberapa bulan koloni lebah itu menghasilkan madu dan dipanen. “Dari situ kami mulai mikir kenapa tidak kita bantu warga yang pengen mengevakuasi lebah terus kita pelihara,” sebutnya, Selasa (14/7).

Johan mengatakan sering mendapatkan laporan dari warga yang merasa terganggu dengan keberadaan lebah di sekitar rumahnya. Dari setiap koloni lebah akan muncul satu koloni lagi dalam kurun waktu tertentu, sehingga lebah-lebah itu akan mencari tempat untuk berkembang. Komunitas ini biasanya akan mengevakuasi lebah-lebah yang menempati almari, kolong meja atau sofa di rumah warga. “Jadi lebah ini tiba-tiba muncul di almari, atau di dalam sofa, pernah beberapa kali didalam pengeras suara masjid dan warga tidak berani mengevakuasi karena khawatir disengat,” terangnya.

Dengan menggunakan peralatan sederhana seperti jaket, sarung tangan, penutup wajah dan karung anggota komunitas biasanya akan mengambil koloni lebah. Sehingga tidak ada lagi satu lebah pun yang bisa kembali bersarang di tempat-tempat tersebut. Kegiatan mereka ini salah satu tujuannya adalah menghindarkan konflik manusia dengan lebah. Menurutnya sebagaian besar lebah yang dievakuasi adalah jenis lebah prolis atau masyarakat menyebutnya Tawon Glodok Jawa. “Setelah dievakuasi kita masukkan ke dalam kotak yang tidak kita beri frame (bingkai tempat madu), disitu mulai berkembangbiak,” imbuhnya.

Madu yang dihasilkan lebah-lebah ini cukup bagus bahkan memiliki kualitas super. Sehingga tidak jarang komunitas ini melayani penjualan madu hingga ke Sulawesi dan Papua. Madu yang dipasarkan secara online ini dihargai kisaran Rp 170 ribu tiap 460 mililiternya. Mereka juga menjualnya dalam bentuk madu sarang yang dikemas menggunakan boks mika seharga Rp 260 ribu per-kilogramnya. Komunitas ini dikatakan Johan tidak hanya menjual madu hasil lebah namun juga memberikan edukasi kepada masyarakat terkait budidaya lebah. “Sering orang datang kesini dan kita layani seperti wisata edukasi budidaya lebah sekaligus bisa panen madu sendiri. Kita sudah punya empat tempat untuk budidaya, di Glodok dan Kuwiran Bantul, dua lagi di Kweni dan Sawit Sewon,” ungkapnya.

Di sela mengikuti panen madu, Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengatakan bahwa aktivitas komunitas ini membuktikan bahwa potensi budidaya madu di Bantul cukup tinggi. Bahkan menurutnya kualitas yang dihasilkan sangat baik. Sekali dalam dua bulan komunitas ini dapat memanen madu yang warnanya kuning kehitaman yang legit. Hal ini karena lingkungan di sekitar lokasi budidaya masih asri dan mampu menyediakan tanaman dan bunga untuk lebah. “Di Bantul ini ada beberapa petani madu yang memang dapat menghasilkan madu kualitas terbaik, potensi ini akan menginspirasi kita supaya menjaga keasrian lingkungan sekitar,” sebutnya.

Pria yang akrab dipanggil Halim ini bahkan mewacanakan membangun program pemasaran khusus bagi usaha kecil menengah (UKM) produsen madu. Program pemasaran digital untuk madu itu diyakini Halim dapat mendongkrak permintaan dari luar daerah bahkan luar negeri. Sehingga nantinya para petani tinggal meningkatkan kapasitas produksi untuk melayani permintaan. “Yang sulit itu biasanya ketika permintaan sudah naik tapi kapasitas produksi justru tidak bisa ditingkatkan. Tapi melihat kondisi alam di Bantul, peningkatan priduksi madu bisa kita lakukan,” pungkasnya. (C-1)

Read previous post:
Sebelas PDP, Satu Orang Meninggal Dunia di Pati

PATI ( MERAPI ) – Jumlah korban meninggal dunia akibat Covid19 di Pati, bertambah lagi. Seorang laki-laki warga Rt 7/Rw

Close