PUNCAK MUSIM KEMARAU: Sehari 3-4 Kali Kebakaran di Bantul

MERAPI-RIZA MARZUKI  Dwi Daryanto
MERAPI-RIZA MARZUKI
Dwi Daryanto

BANTUL (MERAPI) – Intensitas kebakaran di Bantul terus meningkat di puncak musim kemarau tahun ini. Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, sejak Januarai hingga 30 September 2019 terjadi 149 kasus kebakaran. Dari jumlah tersebut 60 persen diantaranya adalah kebakaran lahan dan hutan yang terjadi pada musim kemarau.

Kepala BPBD Bantul, Dwi Daryanto di kantornya menjelaskan kebakaran tersebut meningkat signifikan pada musim kemarau. Puncak musim kemarau ini insiden kebakaran rata-rata terjadi 3-4 kasus dalam sehari. Durasi kebakaran sangat bervariatif, tergantung pada sulit dan tidaknya api dijinakkan. Pemadaman api akan sangat tergantubg pada ketersediaan air di sekitar lokasi dan medan yang sulit dijangkau. “Yang besar seperti belum lama di Nawungan, medannya terjal dan berada diperbukitan yang sulit dijangkau oleh mobil damkar dan petugas. Sehingga hanya bisa dipadamkan manual,” jelasnya, Senin (30/9).

Dwi mengatakan sebagian besar lahan yang terbakar adalah lahan warga dan sebagian lagi perkebunan seperti lahan tebu. Untuk hutan negara menurutnya tahun ini tidak banyak insiden. Penyebabnya mayoritas dipicu karena kelalaian manusia. Pembakaran sampah yang asal-asalan justru menjadi pemicu utama. Kebiasaan masyarakat membakar sampah ternyata harus dilakukan dengan baik dan aman. Dwi mengatakan pembakaran sampah oleh masyarakat harus ditunggu sampai sampah habis terbakar dan api benar-benar mati. “Kami pernah bikin simulasi dengan puntung rokok, ternyata tidak begitu cepat terbakar. Sehingga kebakaran besar lahan itu biasanya dipicu oleh sumber api yang cukup besar juga, seperti pembakaran sampah,” jelasnya.

Faktor kelalaian manusia ini juga menjadi pemicu utama kebakaran rumah. Beberapa kejadian kebakaran rumah ini disebabkan karena lupa mematikan kompor atau perapian di dapur. Selain itu Dwi mengatakan konsleting listrik atau hubungan arus pendek juga menjadi pemicu terbesar. Sejauh ini masyarakat masih ada yang tidak menyadari pentingnya instalasi listrik yang baik dan penggunaan material instalasi yang standar. “Sambungan yang tidak baik membuat panas, meleleh, dan akhirnya terbakar,” sebutnya.

Sejauh ini BPBD Bantul sudah menyiagakan 7 mobil pemadam kebakaran dan 2 mobil tangki. Selain di markas komando induk BPBD Bantul, armada pemadam tersebut standby di tiga pos damkar yakni Imogiri, Banguntapan, dan Kasihan. Sementara kekuatan personel satgas pemadam kebakaran sebanyak 65 orang. “Semua ready setiap hari, semua standby menangani rata-rata 3-4 kejadian kebakaran tiap hari,” ujarnya.

Untuk meningkatkan antisipasi kebakaran, Dwi mengharapkan personel relawan dan bantuan pemadam kebakaran atau balakar di desa-desa bisa memetakan potensi rawan kebakaran di wilayah masing-masing. Menurutnya 30 dari 75 desa di Bantul sudah mendapatkan pelatihan dari BPBD. Dengan begitu ada penambahan dan dukungan personel untuk antisipasi. Dia pun berharap desa-desa lain yang belum terbentuk bisa segera menyusul. “Kami harap juga untuk sosialisasi kepada warga agar pembakaran sampah tidak memicu kebakaran,” pungkasnya. (C-1)

Read previous post:
PIMPINAN DPRD SLEMAN DILANTIK: Tunjukkan Kinerja Lebih Baik

SLEMAN (MERAPI) - Empat pimpinan DPRD Kabupaten Sleman masa bakti 2019-2024 dilantik dan diambil sumpah jabatan. Keempat pimpinan DPRD Sleman

Close