FESTIVAL DALANG ANAK DAN REMAJA – Disbud Bantul Beri Ruang Regenerasi Dalang

MERAPI-RIZA MARZUKI Salah satu dalang remaja dalam festival, Kamis (20/6).
MERAPI-RIZA MARZUKI
Salah satu dalang remaja dalam festival, Kamis (20/6).

SEWON (MERAPI) – Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul bekerja sama dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) dan Institut Seni Indonesia (ISI) menggelar Festival Dalang Anak Dan Remaja selama dua hari (19-20/6). Pagelaran yang bertempat di Pendapa Panjangmas ISI, Sewon itu merupakan upaya regenerasi dalang yang dinilai semakin sulit. Festival yang menggunakan dana keistemewaan itu juga digunakan untuk menjaring peserta yang akan dikirim ke acara serupa tingkat DIY Juli mendatang.

Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Nugroho Eko Setyanto menjelaskan bahwa festival ini sudah rutin dilakukan tiap tahunnya. Pihaknya menggandeng Pepadi Bantul sebagai pihak yang berkompeten bidang pedalangan. Namun tahun ini ISI sebagai lembaga pendidikan seni dan budaya pun ikut bekerjasama sekaligus memeriahkan dies natalies. Dia menyebut kerjasama antara pemerintah, Pepadi, dan lembaga pendidikan ini diharapkan mampu mengoptimalkan upaya regenerasi dalang yang diakui sulit. “Kita terus berupaya, kita menggunakan danais untuk festival dan beberapa kali pementasan wayang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, dan Sastra Disbud Bantul, Dahroni menyebut ada 19 peserta asal Bantul. Hari pertama festival dipentaskan 9 dalang anak, kemudian 10 dalang remaja pada hari berikutnya. Lebih lanjut, Dahroni menjabarkan bahwa dari seluruh peserta akan diambil juara 1,2,3, harapan 1, dan harapan 2 untuk masing-masing kategori anak dan remaja. Dalang terbaik akan diadu dengan dalang dari 3 kabupaten dan 1 kota se-DIY. “Nanti setelah dapat yang terbaik akan kita lakukan pembinaan,” sebut Dahroni.

Menurutnya dalang asal Bantul memiliki potensi besar bisa mewakili DIY di tingkat nasional. Pasalnya pembinaan yang dilakukan mampu memberikan hasil baik dikancah nasional beberapa tahun sebelumnya. Setidaknya ada 3-4 dalang anak yang sempat maju tingkat nasional, bahkan beberapa diantaranya menyabet juara. Pihaknya optimis, nama Bantul akan kembali harum, apalagi jumlah peserta festival tahun ini meningkat dibanding sebelumnya. “Setiap peserta baik yang menang atau pun belum, kita berikan honor sebagai bentuk apresiasi,” jelasnya.

Sementara Ketua Pepadi Bantul, Ki Sujanto membenarkan regenerasi dalang tidak mudah. di Bantul sendiri tercatat ada 220 dalang yang terbagi dalam tiga jenjang usia, yakni dalang senior, dalang muda, dan dalang anak. Dari jumlah tersebut dalang senior masih terbanyak mencapai 60 persen, sedangkan dalang anak hanya kisaran 10 persen, sisanya merupakan dalang muda. “Tidak semua dalang muda dan dalang anak itu karena keturunan keluarga dalang, banyak juga yang tumbuh dari sanggar-sanggar,” ucapnya.

Ki Sujanto menyebut belum semua dalang di wilayahnya mampu terfasilitasi oleh danais. Pasalnya tiap tahun hanya ada 15 kali pementasan menggunakan danais, jauh dibandingkan dengan jumlah dalang yang ada. Sehingga pihaknya harus memutar otak, termasuk menyisipkan dalang anak sebagai pembukaan pentas wayang. Pentas dalang anak yang biasa disebut mucuki ini biasanya hanya berdurasi 30 menit. “Jadi nanti dalang anak dan muda ini juga bisa dapat kesempatan pentas,” sebutnya. (C-1)

Read previous post:
ilustrasi
Penjahat Malu

ADA beberapa tipe orang yang melakukan kejahatan. Ada yang merasa malu ketika aksinya ketahuan, ada pula yang ndableg tak peduli

Close