Dua Tahun Longsor, Jalan Kedungjati-Jetis Urung Diperbaiki

MERAPI-RIZA MARZUKI Kondisi longsoran yang sudah terjadi sejak tahun 2017.
MERAPI-RIZA MARZUKI
Kondisi longsoran yang sudah terjadi sejak tahun 2017.

IMOGIRI (MERAPI) – Warga Dusun Jetis, Selipamioro, Imogiri jengah menunggu perbaikan jalan utama yang urung dilakukan. Padahal longsor yang memakan badan jalan itu sudah terjadi sejak tahun 2017 silam. Meski pihak Pemerintah Desa sudah berusaha mengajukan perbaikan, namun belum juga ada tindakan.

Jalan Kedungjati-Jetis adalah akses utama yang berada tepat di bibir Sungai Oya, Desa Selopamioro. Saat badai cempaka 2017 lalu, banjir besar membuat talud sungai setinggi 10 meter mengalami longsor sepanjang 30 meter. Akibatnya sebagian badan jalan aspal ikut tergerus. Warga hanya memasang batu-batu di atas longsoran sebagai pembatas agar tidak terjadi kecelakaan. “Kalau malam harus hati-hati karena minim penerangan. Hanya ada beberapa lampu kecil,” ungkap salah satu warga, Triyanto, Rabu (23/5).

Menurutnya, jalan ini menjadi akses utama bagi warga Kedungjati sebanyak 30 kepala keluarga menuju ke Imogiri. Sebelumnya warga bisa menggunakan jembatan gantung sebelum hanyut terbawa banjir. Triyanto berharap perbaikan segera dilakukan di jalan berstatus jalan kabupaten itu. Menurutnya saat ini akses itu semakin ramai setelah digunakan sebagai jalur wisata Selopamioro Adventure Park. “Ini kalau mobil papasan sudah tidak bisa, harus menepi salah satunya,” imbuh Triyanto.

Sementara itu, Kasi Pelayanan Desa Selopamioro, Danang Kumorojati mengaku sudah sempat mengajukan perbaikan dan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO). Pihaknya menyebut talud atau tanggul tersebut merupakan kewenangan BBWSO dan badan jalan merupakan kewenangan Pemkab Bantul. Hasilnya BBWSO saat itu mengaku tidak memiliki pos anggaran untuk perbaikan talud Sungai Oya tersebut. Namun begitu BBWSO sempat menawari untuk memberikan bantuan berupa bronjong, sementara material dan tenaga harus swadaya. Bantuan itu pun akhirnya tidak diambil karena tidak tidak mampu menggarap. “Desa pun tidak bisa menganggarkan karena statusnya milik BBWSO dan Jalan Kabupaten,” ungkap pria 30 tahun tersebut.

Akses jalan itu kini menjadi kendala tersendiri bagi Pemdes Selopamioro yang tengah mengembangkan wisata di lokasi tersebut. Sehingga Danang berharap ada solusi dari pihak berwenang baik Pemkab Bantul maupun BBWSO. Menghadapi musim libur lebaran diprediksi tingkat kunjungan wisatawan akan melonjak, sehingga akses jalan sangat penting. Sementara ini untuk bus pariwisata berukuran besar berhenti di Balai Desa kemudian pengnjung melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi lokal. “Kalau mobil dan motor bisa langsung sampai lokasi perahu karet dan kano, sehingga masih aman hanya harus hati-hati,” pungkasnya. (C-1)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Menakar Sampah Bukan Sekadar Uang

SLEMAN (MERAPI) - Sampah masih menjadi permasalahan di setiap daerah. Tingginya volume sambah tidak sebanding dengan kemampuan dalam pengelolaan. Dibutuhkan

Close