Bakpia Kemasan Plastik Mika Dilestarikan

Tahapan membuat bakpia spesial isi kacang hijau (kumbu). (MERAPI-SULISTYANTO)

SENTRA penghasil bakpia di kawasan Pathuk Yogya sudah dikenal berbagai kalangan. Meski demikian beberapa tempat di Daerah Istimewa Yogyakarta juga mudah ditemukan para produsen bakpia. Cara produksinya tak kalah maju, bercitarasa lezat dan pemasarannya sudah sampai ke berbagai daerah di Indonesia.

Satu di antaranya saat menyambangi kawasan Kemusuk Kidul Sedayu Bantul akan mudah menemui pembuat bakpia. Sampai-sampai mereka sudah menyebut sebagai bakpia Kemusuk, bukan bakpia Pathuk. Salah satu produsen bakpia Kemusuk, pasangan suami-istri, Harman dan Umi Sugiyanti mengaku sudah puluhan tahun lalu membuat bakpia. Awalnya hanya dititipkan di beberapa warung dengan kemasan plastik mika isi 10 bakpia.

Menurut Umi sekitar lima tahun lalu mendapat binaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas Mercu Buana Yogyakarta (LPPM UMBY). Hasilnya antara lain cara produksi kian baik sampai mendapat bantuan mesin penggiling kacang hijau serta oven. Bahkan ada pembinaan-pembinaan penting, misalnya mengurus izin halal-MUI, kemasan sampai pemasaran yang lebih baik. Khusus kemasan meski sudah menggunakan kardus dengan desain menarik, namun sampai sekarang pihaknya tetap melestarikan kemasan plastik mika.

“Kemasan plastik mika berdasarkan pesanan saja, pada awal usaha kami satu plastik mika isi 10 biji bakpia harganya Rp 2.500, sekarang ini Rp 17.500,” jelas Umi kepada Merapi, baru-baru ini.

Ditambahkan, pihaknya hanya memproduksi bakpia original yakni isi kacang hijau (kumbu). Garis besar membuat isi bakpia berbahan kacang hijau, yakni proses perebusan, dicuci bersih, dikukus digiling dan dicampur gula. Kualitas kacang hijau dipilih yang paling bagus. Sedangkan kulit bakpia berbahan tepung terigu ditambah gula dan dibuat adonan. Isi yang sudah terbungkus kulit selanjutnya dioven.

“Karyawan dan pengunjung museum HM Soeharto biasa ada yang belanja ke sini langsung. Ada juga pesanan-pesanan dari berbagai pihak termasuk yang berasal dari beberapa daerah,” ungkap Umi.

Sementara menurut Wakil Rektor UMBY Dr Bayu Kanetro MP, pihaknya membina dua produsen bakpia di Kemusuk termasuk bakpia 033 milik Harman-Umi sejak 2014 silam. Waktu itu ia masih sebagai Ketua LPPM. Beberapa pembinaan yang dilakukan, antara lain pelatihan cara memproduksi bakpia yang baik sampai standar sanitasi. Tak ketinggalan pendampingan untuk mendapatkan sertifikasi halal dari MUI.

“Tidak kalah penting, kami juga memberikan program pengembangan kapasitas industri, sebab salah satu hambatan tahapan memproduksi antara lain penggilingan kacang hijau dan proses pencampuaran adonan yang awalnya masih secara manual lalu kami beri bantuan mesin. Dengan peralatn mesin menjadikan kapasitas produksi bisa meningkat, sehingga pemasaran menjadi semakin bagus dan bisa sampai tingkat nasional,” tuturnya. (Yan)


Pin It on Pinterest

Read previous post:
Pasar Demangan Mulai Terapkan Retribusi Elektronik

GONDOKUSUMAN (MERAPI) - Setelah Pasar Beringharjo sisi barat, kini giliran Pasar Demangan menerapkan pembayaran retribusi pasar secara non tunai dengan

Close