Mantan Ketua KPU ini Garap Limbah Kayu Jati Bernilai Ekomoni Tinggi

MERAPI-TEGUH
Johan bersama produk rustic teak yang siap kirim.

MEMANFAATKAN limbah alam menjadi barang yang lebih bermanfaat dan punya nilai ekonomi lebih tinggi, merupakan salah satu dari ruang lingkup industri kreatif yang harus terus didorong. Hal ini seperti yang dilakukan mantan ketua KPU Kabupaten Bantul, Johan Komara MIP, yang menggarap limbah batang jati menjadi kerajinan rustic teak yang punya nilai jual lumayan tinggi.

“Ini hanya memanfaatkan limbah kayu jati, dari pada dijadikan bahan bakar. Dengan sedikit memberi sentuhan barang yang semula tidak memiliki nilai, jadi punya nilai lebih,” ucap Johan ketika ditemui di lokasi usahanya, kawasan Bembem Trimulyo Jetis Bantul.

Rustic teak menurut Johan sebetulnya limbah alam berupa potongan batang kayu jati yang secara alami mengalami pelapukan atau proses erosi sehingga memunculkan ornamen-ornamen yang khas dan eksotik. Secara tradisional batang kayu ini biasa masuk ke dalam tungku perapian untuk kayu bakar. Namun setelah dibersihkan dan diberi sentuhan seni ternyata punya nilai ekonomis yang tinggi dan banyak disukai oleh buyer dari luar negeri.

Selama ini menurut dia pasaran terbesar rustic teak merambah pasar ekspor ke Jerman dan negara kawasan Eropa lainnya seperti Inggris, Spanyol, Belanda selain itu beberapa negara di benua Amerika juga mulai tertarik melirik kerajinan ini. Untuk pasaran dalam negeri sebenarnya memiliki prospek bagus, namun peminatnya terbatas pada golongan menengah atas.

“Sebenarnya tidak mahal, hanya memang terkesan eksklusif karena batangan kayu jati yang banyak dilihat dari jayu kualitas bagus,” tuturnya,.

Menurut suami N. Ucu Suhayama yang sudah sejak 2002 bermain di bidang UMKM khususnya kerajinan batu ukir dan berbagai teraso produk, memanfaatkan limbah selain membuka lapangan kerja bagi banyak orang juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Sehingga menurut Johan, selain memberikan rezeki kepada banyak orang, kerajinan rustic teak juga turut menyelamatkan lingkungan, karena tidak menggunakan atau menebangi pohon jati baru.

Dengan dibantu 10 orang karyawan, nyaris 95 persen produksi dari studionya masuk pasaran ekspor. Hal ini menurut dia, karena memang pasaran ke sana yang masih terbuka luas. Sedangkan untuk pasar dalam negeri masih sangat minim, karena selera memang beda.

“Keunikan dari kerajinan rustic teak ini adalah justru dari proses alaminya, sehingga tidak ada unsur campur tangan manusia. Kita hanya di proses finishing dan membersihkan saja, terkait dengan pembentukan ornamen adalah proses alami,” pungkas Johan yang menambahkan selama ini bahan baku justru banyak didatangkan dari Jawa Timur. (Teguh)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Digital Lounge CIMB Niaga Hadir di Atma Jaya Yogya

YOGYA (MERAPI) - CIMB Niaga meresmikan Digital Lounge @Campus di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Senin (11/2). Lewat digital lounge tersebut,

Close