Puter Lumut Jadi Ikon Fauna Bantul

MERAPI-TEGUH Puter Lumut dalam penangkaran.
MERAPI-TEGUH
Puter Lumut dalam penangkaran.

PUTER Lumut dalam keseharian masyarakat Jawa sering juga disebut Puter Geni, karena warnanya yang mendekati kemerahan seperti api. Ada juga sebagian daerah yang menamainya dengan sebutan Puter Bromo, Dederuk Merah Jawa dan bahkan Teruk yang biasa dipakai orang jawatimuran untuk menyebut Puter Lumut yang memiliki nama latin Streptopelia Bitorquata.

Fauna yang menjadi ikon kebanggaan Kabupaten Bantul ini memiliki ciri fisik yang khas, seperti warna bulunya yang coklat kemerahan dengan hiasan kalung di lehernya tiga garis berwarna Putih-Hitam-Putih. Secara fisik perawakannya lebih besar bila dibanding dengan jenis tekukur kebanyakkan, cakarnya berwarna merah dan yang unik pada pangkal paruhnya seperti bergincu dengan warna merah, umumnya memiliki bola mata cerah dengan lingkaran merah terang pada bulat matanya.

“Puter Lumut ini merupakan endemi Jawa dan menjadi Ikon fauna Kabupaten Bantul, sayangnya kurang mendapat perhatian sehingga populasi di alam bebas selalu ada kecenderungan berkurang akibat perburuan dengan senapan angin,” tutur Irvan S. Hantara pemilik Pawirodoro Farm yang selama ini konsen mengembangkan budidaya satwa unggas endemi ketika ditemui Merapi di kandangnya Gandekan, Manding, Trirenggo, Bantul, Minggu (25/11).

Sepanjang pengamatannya di alam bebas menurut Irvan, Puter Lumut mengalami ancaman yang serius dengan adanya perburuan bukan untuk dipelihara namun perburuan dengan senapan angin untuk dikonsumsi. Pada hal menurut dia Puter Lumut sudah dicanangkan menjadi fauna ikon Kabupaten Bantul, namun sepertinya belum mendapatkan perhatian yang serius dari pihak Pemkab.

Sebaran habitat Puter Lumut sebenarnya memiliki cakupan sangat luas, nyaris di seluruh pulau-pulau Nusantara kecuali di Kalimantan dan Sulawesi. Untuk di DIY sebaran habitatnya ada konsentrasi di sepenjang pegunungan pantai selatan, untuk wilayah hutan bakau Baros Sanden serta sebagian wilayah Kretek masih dengan mudah mendapatkan Puter Lumut beterbangan di alam bebas.
Konon demikian menurut Irvan, Puter Lumut pernah mengalami masa keemasan dan menjadi klangenan berkelas di kalangan masyarakat Jawa. Namun anggungannya yang sangat sederhana ternyata mudah tergantikan dengan anggungan lain seperti Derkuku, Sinom bahkan Perkutut. Sehingga kini nyaris jarang ditemukankan Puter Lumut ditaruh di gantangan emperan rumah.

“Sebenarnya selain warnanya dan ciri unik di panggkal paruh dengan gincu merahnya, anggungan Puter Lumut juga memiliki suara khas yang bisa melengkapi anggungan lainnya bila di gantangkan berjajar di emperan rumah,” tutur Irvan yang mengaku merasa yakin prospek Puter Lumut akan cerah di pasaran unggas anggungan.

Meski begitu harga Puter Lumut relatif stabil karena permintaan dari luar daerah juga lumayan bagus, sementara pemainnya bisa dihitung dengan jari. Untuk sepasang anakan usia 1,5 bulan biasa dilepas Rp.500 ribu, sedangkan pejantan yang mulai bunyi biasa dibandrol Rp. 500 ribu per ekornya. Dan harga Puter Lumut dewasa yang telah memiliki anggungan khas biasa di kasih lebel harga diatas Rp. 1 juta. (Teguh)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MERAPI-BAMBANG PURWANTO Tersangka SA (tengah) pencabul anak tiri dibekuk polisi.
Pria Bejat 8 Tahun Cabuli Anak Tiri

WONOSARI (MERAPI)-SA (44) warga Kecamatan Purwosari, Gunungkidul dibekuk Unit Reskrim Polsek Purwosari, Gunungkidul usai dilaporkan mencabuli anak tirinya selama delapan

Close