Perkutut Mutiara Eksotik Mudah Diternak

Diamond Dove dalam kandang penangkaran. (MERAPI-TEGUH)
Diamond Dove dalam kandang penangkaran. (MERAPI-TEGUH)

BAGI penggemar burung perkutut, jenis burung satu ini boleh jadi bisa sebagai salah satu kelangenan yang patut dimiliki. Selain ada jenis perkutut lokal yang biasa disebut Majapahitan, lantas ada perkutut Bangkok dan burung yang punya warna eksotik ini disebut perkutut mutiara. Disebut demikian karena di sekujur badannya ada warna trotol putih, yang menambah manis penampilan burung yang di negara asalnya Australia disebut Diamond Dove (Geopelia cuneata).

Masih berkerabat dekat dengan perkutut lokal maupun perkutut bangkok, dan sama-sama berasal dari genus marga Geopelia, namun penampilan fisik diamond dove terlihat jauh berbeda. Spesies berasal dari benua Kanguru ini terlihat lebih kecil. Oleh sebagian penggemar burung di tanah air sering disebut Ketitir Bali.

Suara anggungannya terdengar lebih lembut bila dibanding dengan jenis perkutut lokal dan Bangkok yang terkesan berani. Bahkan ketukan kuk-nya pun nyaris terseret tak bertenaga, tapi dibalik suara lembutnya Diamond Dove menjadi menarik dengan ragam warna bulunya.

“Ada sekitar 27 jenis warna dari perkembangan perkutut mutiara ini setelah banyak diternakan di tanah air. Burung ini tergolong mudah beradaptasi sehingga cepat perkembangbiakannya,” ungkap Ervan salah seorang peternak berbagai jenis burung yang mukim di Manding Gandekan Bantul, belum lama ini kepada <I>Merapi<P>.

Banyak peternak selain mengembangbiakan jenis ini, juga memanfaatkannya sebagai babu alias induk asuh bagi telur perkutut lokal, perkutut bangkok bahkan sejumlah jenis derkuku. Karakteristik yang dimiliki burung ini memang unik, selain menjadi induk semang bagi burung lain yang sejenis, induk burung ini juga mampu menjadi baby sitter yang baik hati terhadap anak asuhnya.

“Banyak dijadikan babu untuk mendongkrak produksi perkutut lokal kelas juara dan keberhasilannya sampai seratus persen sampai putus loloh,” tandas Ervan yang punya banyak pengalaman dalam soal beternak berbagai jenis anggungan dan burung hias ini.

Menurut dia, karena karakteristiknya yang sangat adaptatif dengan lingkungannya, sehingga banyak peternak yang sering melakukan eksperimen. Di kalangan para breeder perkutut ungkap Ervan, sering melakukan persilangan Diamond Dove dengan perkutut lokal maupun Bangkok yang nantinya akan menurunkan jenis hibrid yang biasa disebut mule. Jenis ini memiliki sifat yang unik, baik paduan warna bulu yang eksotik sampai suaranya pun terkadang punya cengkokan patah-patah yang khas.

“Kalau jenis hibrid dengan keunikan warna dan suara khas, biasanya tidak dijual. Karena unik biasa di pelihara sendiri, tapi kalau diminati biasa dengan harga lumayan,” tuturnya tanpa menyebut kisaran harganya.

Untuk sepasang Diamond Dove biasa dengan warna abu abu berbintik putih, di pasaran kisaran Rp. 500 ribu sepasangnya. Sedangkan harga jenis bulu silver dengan bintik putih terkesan menyala biasa dilepas Rp. 750.000 per pasang.

Harga perkutut mutiara menurut Ervan relatif stabil di pasaran, hal ini disebabkan pemain atau peternak tidak terlalu banyak. Selain itu meski tergolong burung impor, namun pemain dalam negeri tidak tergiur dengan harga murah yang berasal dari tangkapan liar di negara asalnya.

Keunikan perkutut mutiara selain pada jenis warna bulunya, juga adanya lingkatan atau atau cincin mata berwarna oranye. Lingkaran ini juga menjadi salah satu penanda jantan dan betina, bila lingkaran berwarna tebal dan lebih besar bisa dipastikan itu jantan sedangkan betina cenderung terkesan pucat dan agak tipis. (Teguh)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
DARI JAKARTA NAIK MOBIL KE WONOSARI-Pasutri Hobi Ngutil di Swalayan

WONOSARI (MERAPI)- Sepasang suami istri, Ny Ad (31) dan Sw (50) keduanya warga Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat dibekuk

Close